Menghadapi Era AI, Anggota DPR RI Ina Amania Dorong PTKAI Lahirkan Generasi Berkarakter Pesantren dan Berwawasan Global

Banyuwangi – Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania menegaskan pentingnya perguruan tinggi keagamaan untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis dan digital, tetapi juga memegang teguh etika dan integritas.

Penegasan tersebut disampaikan dalam forum Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) yang dihadiri sekitar 250 peserta di Banyuwangi, Senin, 21 September 2026.

​Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari berbagai elemen akademis di Banyuwangi, seperti Untag, Uniba, Poliwangi, Stikom, UBI, Unismar, hingga jajaran dosen, peneliti, dan guru honorer.

​Dalam paparannya, Ina Ammania menyoroti tema “Membentuk Generasi PTKI Unggul: Berkarakter Pesantren, Berwawasan Global dan Responsif Terhadap Zaman” sebagai respons nyata atas tantangan era Artificial Intelligence (AI) dan persaingan kerja lintas negara.

Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania (tengah) saat Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) bersama akademisi, dosen, mahasiswa, dan guru honorer di Banyuwangi, Senin, 21 September 2026.​

​Berdasarkan data Kementerian Agama, Indonesia memiliki potensi ekosistem pendidikan Islam yang besar dengan 932 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKAI) terdiri dari 59 PTKIN dan 873 PTKIS. Hingga tahun 2025, tercatat 35 PTKIN telah mengantongi akreditasi unggul serta 104 program studi berakreditasi internasional.

​Meski demikian, Ina mengingatkan bahwa status akreditasi harus sejalan dengan kesiapan para lulusan dalam menjawab tantangan era digital. Mengutip data APJII 2026, pengguna internet di Indonesia telah menembus 235,26 juta jiwa (81,72 persen), sementara BPS 2025 mencatat 77,63 persen penduduk usia 5 tahun ke atas aktif berinternet.

​”Akhlaknya tetap kuat, meski teknologi baru.Mahasiswa boleh menggunakan artificial intelligence untuk membantu belajar, tetapi jangan menjadikannya alat untuk melakukan plagiarisme atau menipu dalam tugas akademik,” ujar Ina Ammania di hadapan ratusan peserta.

​Guna mencetak SDM unggul yang relevan dengan perkembangan zaman, Ina memaparkan tiga fondasi utama yang perlu diperkuat oleh setiap lembaga pendidikan keagamaan. Diantaranya , enjadikan adab, kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi utama.

“Hal ini sejalan dengan mandat UU No.18 Tahun 2019 tentang Pesantren yang menekankan fungsi pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan penjaminan mutu,” kata Ina.

Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania (tengah) saat Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) bersama akademisi, dosen, mahasiswa, dan guru honorer di Banyuwangi, Senin, 21 September 2026.​

Selain itu juga mendorong mahasiswa aktif membaca jurnal internasional, mengikuti konferensi global, dan menguasai bahasa asing tanpa kehilangan identitas Islam Indonesia yang moderat.

“Pilar ini memperkuat implementasi UU No.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi,” katanya,

Selain itu, Ina juga mendorong integrasi ilmu keagamaan dengan dinamika masa kini, seperti fintech, ekonomi digital, hingga keamanan data. Mahasiswa dari berbagai fakultas, mulai dari dakwah, syariah, hingga ekonomi Islam, diharapkan mampu menghadirkan literasi yang konstruktif di ruang digital.

​Sebagai Anggota Komisi VIII DPR RI yang menjadi mitra kerja Kementerian Agama, Ina Ammania berkomitmen untuk terus mendorong penguatan anggaran bagi peningkatan kapasitas dosen, literasi digital mahasiswa, serta riset Islam moderat.

​Menutup arahannya, Ina memberikan pesan mendalam kepada para mahasiswa agar tidak bersikap pasif di tengah arus perubahan zaman.

​”Jangan hanya menjadi penonton perubahan, jadilah pelaku perubahan. Dan jangan pernah berpikir bahwa menjadi modern berarti meninggalkan agama. Justru masa depan membutuhkan generasi yang modern ilmunya, kuat akhlaknya, dan luas pengabdiannya,” tutur Ina. (Adv)

Leave a Reply